Parenting ParentingRangkuman praktis dan ulasan ringan untuk keseharian.
parenting

Mengatasi Tantrum pada Balita dengan Pendekatan Sederhana

Tips praktis menghadapi tantrum balita tanpa stres. Pelajari penyebab dan cara menenangkan anak dengan langkah konkret untuk orangtua.

24 Apr 2026 · 3 menit baca · oleh Tommy Siregar
Mengatasi Tantrum pada Balita dengan Pendekatan Sederhana

Suatu siang di Pulaumakalehi, anak saya yang berusia dua setengah tahun tiba-tiba menjerit dan berguling di lantai toko kelontong. Semua mata tertuju pada saya. Sebagai orangtua muda, rasanya campuran malu, bingung, dan lelah. Setelah delapan tahun menulis soal pengasuhan, saya belajar bahwa tantrum bukan musuh, melainkan sinyal bahwa anak sedang kehilangan kendali atas emosinya. Kuncinya bukan memadamkan amarah, tapi membimbingnya kembali tenang.

Penyebab Tantrum dan Cara Menghadapinya

Tantrum pada balita umumnya terjadi karena keterbatasan bahasa dan kemampuan mengatur emosi. Anak belum bisa mengungkapkan keinginan atau rasa frustrasi dengan kata-kata, sehingga ledakan fisik menjadi saluran satu-satunya. Faktor lain adalah kelelahan, lapar, atau stimulasi berlebihan. Alih-alih marah balik, coba tiga langkah berikut.

Pertama, tetap tenang. Anak membaca ekspresi kita. Jika kita panik, ledakannya makin besar. Tarik napas, lalu duduk sejajar dengan matanya. Kedua, beri ruang aman untuk meluapkan emosi. Jangan langsung memeluk jika ia menolak; cukup awasi dari dekat. Setelah tangis mulai mereda, ajak bicara pelan: “Ibu lihat kamu kesal karena mainan itu tidak bisa dibawa pulang.” Validasi perasaannya membuat anak merasa dipahami. Ketiga, alihkan perhatian ke hal lain — tunjukkan burung di luar atau beri air minum. Otak balita mudah teralihkan, dan ini cara efektif mengakhiri siklus tantrum.

Teknik ini tidak instan, tapi konsistensi adalah kuncinya. Setiap kali saya mempraktikkannya, durasi tantrum anak saya semakin pendek. Ia belajar bahwa emosi marah tidak menakutkan, dan ada cara lain untuk menyampaikan keinginan.

Namun, perlu diingat bahwa tidak semua tantrum sama. Ada kalanya anak tantrum karena benar-benar kelelahan atau lapar, bukan karena ingin mainan. Di situasi seperti itu, validasi emosi saja tidak cukup; kamu perlu memenuhi kebutuhan dasarnya dulu. Misalnya, jika anak rewel karena ngantuk, gendong dan ayun perlahan sambil bernyanyi. Jika lapar, beri camilan sebelum bicara. Saya pribadi pernah salah membaca situasi, malah sibuk menenangkan padahal anak cuma butuh tidur. Akhirnya tantrum makin panjang.

Satu hal lagi yang sering terlewat: lingkungan. Kadang anak tantrum karena terlalu banyak rangsangan, seperti suara bising atau orang ramai. Coba bawa anak ke tempat lebih sepi, atau kurangi distraksi di rumah. Saya sering melihat balita tantrum di mal karena kebanjiran stimulus. Solusinya, ajak ke pojok tenang sebentar, lalu perlahan kembali. Pendekatan sederhana ini bantu banyak orangtua, termasuk saya.

Bila tantrum tetap sering terjadi meski sudah dicoba berbagai cara, mungkin ada baiknya konsultasi ke dokter anak atau psikolog. Bisa jadi ada gangguan sensorik atau masalah lain yang perlu ditangani lebih lanjut. Tapi untuk kasus umum, langkah-langkah di atas sudah cukup ampuh.

Menangani tantrum bukan tentang menjadi orangtua sempurna, melainkan hadir penuh saat anak sedang berjuang. Tidak ada metode yang selalu berhasil, tapi memahami akar masalah membuat kita lebih siap. Besok, ketika ledakan lagi datang, ingatlah: ini fase, bukan kegagalan. Anak belajar mengendalikan diri, dan kita belajar sabar. Keduanya tumbuh bersama, sedikit demi sedikit.

Referensi: sumber resmi

Tag: #tantrum #balita #pengasuhan anak #parenting